mempunyai seorang anak yang sehat merupahkan keberuntungan yang tidak ternilai yang didapat oleh orang tua. Apalagi bila anak yang diberikan Tuhan adalah seorang anak yang berbakat, tentu akan lebih beruntung lagi orang tua tersebut.
Sering orang tua yang dikaruniai anak berbakat, terlena dan semakin memaksakan kehendak dan memberikan tuntutan yang lebih besar karena kemampuan anak diatas rata-rata anak umumnya. Atas tuntutan dan harapan yang terlalu berlebihan dapat menciptakan perfeksionis dalam diri anak yang dapat menciptakan kecendrungan sikap yang kurang baik yang dapat berdampak kepada kehidupan sosial anak.
tanpa sikap perfeksionis saja, kadang seorang anak berbakat mempunyai kendala sosial di lingkungan karena keterbakatanya itu. rasa iri dari teman-teman merasa dibedakan oleh teman dan guru, tentunya berdampak bagi perkembangan emosional anak. sebagai orang tua, mungkin terkadang kita lupa ada bagian sisi lain yang harus diperhatikan bukan saja hanya kepintaran akademis saja yang hanya dituju.
Paksaan tuntutan orang tua, tekanan lingkungan dapat menimbulkan gejolak emosional yang sangat berbahaya bila tidak disadari oleh orang tua. kadang anak dapat mematikan keterbakatanya karena merasa tertekan, keinginan untuk diterima oleh teman-teman, dan bila lebih ekstrim lagi, dapat terjadi sesuatu yang semua orang tua tidak harapkan.
kepintaran akademis janganlah hanya menjadi tujuan. pendidikan emosi juga sangat berperan bagi kesehatan dan kelangsungan hidup di kemudian hari. Perkembangan bagian inilah yang biasanya dilupakan karena sudah terlena dengan perkatan berbakat.
Janganlah pemberian yang sangat berharga tersebut menjadi rusak, bahkan menjadi pedang bermata dua.
“membahagiakan diri sendiri atau membahagiakan anak”
DIarsipkan di bawah: pendidikan anak | Ditandai: anak, berbakat, dampak, pendidikan anak, perfeksionis, pola asuh
